Petualangan ke Desa Tongkabo di Kepulauan Togean: Sebuah Wisata Minat Khusus



Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, telah terkenal kaya dalam keindahan dan kekayaan sumber daya alam lautnya. Teluk besar yang terletak di cekuangan atas Pulau Sulawesi ini sedang didorong menjadi kawasan wisata laut terbesar di dunia. Kepulauan Togean yang merupakan salah satu destinasi wisata Indonesia yang memiliki keindahan bawah laut yang telah terkenal baik di dunia, ada di Teluk Tomini.


Keindahan laut di Desa Tongkabo, Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah
Pemandangan dari rumah seorang warga Tongkabo



Desa Tongkabo merupakan salah satu desa di Kepulauan Togean yang terletak di Teluk Tomini ini. Secara administratif, desa tersebut terbagi atas 3 dusun yang masing-masing terletak pada tiga pulau yang terpisah yaitu Dusun Tongkabo, Dusun Panabali, dan Dusun Melam. Di sini, laut yang kaya adalah halaman rumah penduduk yang sehari-hari mereka lihat.
Pemandangan laut yang indah di Tongkabo, Kepulauan Togean
Pemandangan laut yang indah di Tongkabo, Kepulauan Togean
Untuk mencapai Tongkabo, perlu melewati perjalanan cukup panjang yaitu kurang lebih 3 hari perjalanan dari Jakarta, jika bisa langsung mendapatkan kapal di Ampana menuju Tongkabo. Namun jika tidak mendapatkan kapal sesuai jadwal, maka terpaksa harus menginap dulu di Ampana yang merupakan ibukota administratif Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Dari Jakarta, perjalanan dimulai dengan terbang menuju kota Palu, lalu menginap semalam di kota ini. Pagi keesokan harinya dilanjutkan dengan 9 jam perjalanan darat menggunakan mobil travel menuju Ampana. Setelah sampai di Ampana, langsung pastikan jadwal kapal di pelabuhan Ampana. Sebagai catatan, jadwal kapal kayu yang menuju ke Tongkabo hanya ada dua kali dalam satu minggu yaitu Selasa dan Sabtu (tahun 2011).

Dari Ampana, biasanya kita dapat menggunakan kapal kayu ‘KM. Lumba-Lumba’ menuju Tongkabo. Jangan salah memilih waktu, penulis berpetualang kesana pada bulan Desember-Januari yang ternyata tepat pada masa-masa angin musim barat bertiup kencang. Perjalanan di periode ini tidak direkomendasikan ya, Guys! Angin yang kencang pada musim ini menyebabkan gelombang air laut tinggi sehingga berbahaya bagi transportasi laut. Beberapa hari sebelum perjalanan penjelajah.com ke Tongkabo keberangkatan kapal dihentikan sementara karena gelombang air laut yang tinggi. Ada kapal yang diperbolehkan berangkat tetapi harus melalui jalur yang lebih jauh yaitu dengan cara mengitari tepian pulau-pulau di Kepulauan Togean secara perlahan, melewati bagian yang terlindung dari gelombang laut lepas sehingga gelombang air laut di bagian itu cukup tenang namun menyebabkan perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam 1 hari bisa menjadi 3-4 hari. Waktu terbaik untuk mengunjungi Kepulauan Togean pada umumnya, dan khususnya Tongkabo yaitu pada periode April sampai November.

Kapal kayu ini adalah transportasi rakyat yang sangat penting di Kepulauan Togean. Meski merupakan penghubung antar pulau yang esensial, saat itu hanya satu kapal yang beroperasi. Ada speedboat, namun jika tidak salah hanya sampai tujuan Wakai saja. Operasional kapal kayu pada waktu itu berselang satu hari untuk kebutuhan pemeliharaan, berikut adalah jadwal kapal KM. Lumba-Lumba:

  • Ampana – Tongkabo: Selasa
  • Tongkabo – Ampana: Kamis
  • Ampana – Tongkabo: Senin
  • Tongkabo – Ampana: Rabu
  • dst.

Penumpang kapal ini didominasi oleh para pedagang yang berdagang di pulau-pulau di seluruh Kepulauan Togean ini. Perjalanan melewati Wakai, ibukota administratif dan pusat aktivitas di Kepulauan Togean. Kapal juga melewati Pulau Kadidiri yang terkenal itu! Beberapa kali kapal singgah dan menurunkan penumpang di beberapa pulau yang dilewatinya.


Belum ada penginapan di Tongkabo, alternatif yang dapat dicoba adalah tinggal di rumah penduduk. Kita dapat berbicara dengan penduduk setempat dan dengan santun memohon bantuan untuk dapat tinggal di rumah mereka. Meskipun seringkali mereka tidak meminta dan selalu tulus memberikan bantuan, sebaiknya kita telah menyiapkan uang dan/atau hadiah untuk diberikan kepada mereka sebelum pulang sebagai tanda terima kasih. Jangan lupa jaga etika dan hormati warga dan adat-istiadat di sana.

Kami dikenalkan kepada Pak Idu, Sekretaris Desa, yang telah menunggu di dermaga. Sewaktu kami ke sana adalah bertepatan dengan pelaksanaan program tertentu, sehingga memang sudah disiapkan untuk menginap di rumah Sekretaris Desa. Di desa Tongkabo ini, hanya 4-5 keluarga yang memiliki mesin genset sebagai sumber listrik, yang baru dinyalakan pukul 6 sore hingga 11 malam, Pak Idu salah satunya.

Tidak ada sinyal seluler di sini lho! Desa ini hanya mendapat ‘serpihan’ sinyal yang terlempar dari lautan, itu pun jika kita beruntung. Benar-benar tempat melarikan diri dari hiruk-pikuk kota bukan! Jika mendesak, kita bisa berusaha mendapatkan ‘sedikit sinyal’ untuk mengirim SMS. Caranya dengan berjalan ke ujung desa, kemudian mendaki bukit di situ hingga menemui gubuk/saung yang dibangun oleh penduduk yang memang ditujukan khusus untuk para pencari sinyal. Syarat agar sinyal seluler dapat ditemukan: handphone yang digunakan harus memiliki fitur pencarian jaringan secara manual dan handphone harus ditempatkan pada titik yang tepat, bergeser sedikit saja, sinyal pun hilang.

Susahnya sinyal telepon seluler di Tongkabo, Kepulauan Togean
Setitik sinyal di atas bukit di ujung desa
Penduduk desa ini sangat lah ramah dan lembut. Bersikap baik lah dan tawarkan bantuan kepada mereka, sesekali ikut lah mereka memancing atau berkebun, ini jadi petualangan tersendiri bagi kita yang mencari pengalaman berbeda melalui wisata minat khusus.

Menurut cerita salah seorang tokoh masyarakat di Tongkabo, waktu jaman penjajahan Belanda dulu Tongkabo merupakan pusat perdagangan kopra di wilayah Sulawesi Tengah dan Utara. Tongkabo paling maju dibanding pulau-pulau lain. Sekarang, Tongkabo sangat sepi dan terkesan tidak berpenghuni di siang hari. 

Laut Kepulauan Togean ini begitu indah dan kaya. Ikan kerapu yang berenang di sekitar terumbu karang masih dapat dilihat langsung di depan rumah. Terumbu karang yang indah serta spesies ikan yang sangat bervariasi dengan berbagai ukuran, dan tentunya banyak yang berukuran besar, adalah pemandangan sehari-hari. 

Makan ikan yang dipancing sendiri langsung dari laut, merupakan berkah yang selalu dapat disyukuri. Kebutuhan nabati untuk memasak juga diperoleh dari hasil tanam dan diolah sendiri. Minyak untuk menggoreng adalah minyak kelapa yang dibuat sendiri menggunakan wajan penggorengan, begitu pula cabai dan bumbu lain yang dipetik langsung dari kebun di tempat yang bernama Baulu, di pulau seberang. Hal yang paling berkesan tentang Baulu adalah bahwa untuk masuk ke sana terlebih dahulu kita harus melintasi hutan bakau yang merupakan habitat buaya air asin. Perairan yang gelap, teduh, dan tenang tersebut dapat membuat bulu kuduk merinding ketika melewatinya menggunakan perahu katinting yang kecil. Terbayang buaya air asin yang mengintai dari sisi yang tak kita ketahui!

Dusun Panabali, yang terletak di seberang tempat Dusun Tongkabo, dihuni oleh suku Bajo, suku pelaut ulung. Suku Bajo, yang juga terkenal sebagai suku yang nomaden dan tersebar hampir di seluruh wilayah pesisir Asia Tenggara, adalah suku yang biasa menyelam 10-15 meter ke dasar laut tanpa alat bantu apa pun, biasa berkelana di laut, dan sangat menguasai banyak hal tentang laut. Rumah mereka selalu berupa rumah panggung di atas laut, tidak ada yang didirikan langsung di tanah/daratan. Di sini, mereka biasa menyelam untuk berburu gurita, mengambil teripang dengan ukuran sebesar guling, dan kima yang merupakan sejenis kerang yang menempel di terumbu karang.

Jika punya waktu lebih panjang, masukkan juga dalam daftar petualangan kamu selama di wilayah Desa Tongkabo hal-hal berikut yang belum sempat kami coba:

  • mencari kepiting kenari yang merupakan kepiting yang berukuran besar, bersarang di hutan dan bukit-bukit, bukan di perairan. Terdapat sebuah pulau tak berpenghuni di sekitar kawasan Tongkabo yang merupakan habitat kepiting ini
  • memancing ikan barracuda
  • belajar freediving kepada penyelam alam suku Bajo dan mengambil teripang besar

Jangan lupa untuk pesiar atau berkeliling ke pulau-pulau di sekitar Tongkabo, bisa mengajak warga atau menawarkan untuk menyewa katinting mereka. Bisa dilihat pemandangan coral reef, terumbu-terumbu karang yang indah, pulau tak berpenghuni dengan pasir putih, dan keindahan-keindahan alam lainnya.

Keindahan pemandangan laut sekitar Tongkabo, Kepulauan Togean
Pesiar di hari terakhir

Terumbu karang di laut sekitar Tongkabo, Kepulauan Togean
Terumbu karang sekitar Tongkabo

Terumbu karang di laut sekitar Tongkabo, Kepulauan Togean
Terumbu karang sekitar Tongkabo

Terumbu karang di laut sekitar Tongkabo, Kepulauan Togean
Terumbu karang sekitar Tongkabo

Terumbu karang di laut sekitar Tongkabo, Kepulauan Togean
Terumbu karang sekitar Tongkabo

Disadur dari:
http://danikeliat.blogspot.com/2013/03/tongkabo-kepulauan-togean-sebuah.html

*tulisan merupakan hasil perjalanan yang dilakukan pada Desember 2011 – Januari 2012, segala informasi yang tercantum bisa saja telah berubah pada kondisi saat ini.





Tinggalkan Balasan