Penjelajah - Mengenal Apa Itu Hipotermia

Cara Mencegah Hipotermia di Gunung

Seri Mengenal Apa Itu Hipotermia dan Cara Mengatasi Hipotermia di Gunung – Bagian 2
 

 

Pepatah lama mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati. Hal ini juga berlaku di gunung. Pendakian yang panjang, medan yang sulit, serta memakan waktu berhari-hari tentunya akan menghambat evakuasi. Sementara hipotermia yang parah membutuhkan intervensi medis segera. Oleh karena itu lebih baik kita berhati-hati, mengantisipasi, dan mempersiapkan perjalanan dengan baik untuk mencegah hipotermia. Simak artikel Penjelajah berikut untuk mengetahui bagaimana mencegah terjadinya hipotermia di gunung yang terkait langsung dengan perencanaan sebelum keberangkatan.

 
Kelompok yang Lebih Rentan Terkena Hipotermia

Sejumlah kelompok memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena hipotermia dibandingkan kelompok lainnya. Anak-anak dan orang tua misalnya, lebih rentan terkena hipotermia dibandingkan orang dewasa. Anak-anak umumnya belum bisa memahami bahaya dan melakukan tindakan melindungi dirinya sendiri. Sementara orang tua atau lansia memiliki laju metabolisme yang lebih rendah sehingga lebih sulit untuk menghasilkan panas. 

Orang yang memiliki gangguan fungsi kognitif juga berisiko lebih tinggi terkena hipotermia. Penderita demensia (pikun), keterbelakangan mental, serta pengguna obat-obatan tertentu masuk kedalam kategori ini. Kurangnya kemampuan berpikir bisa menyebabkan orang tidak melakukan tindakan pencegahan hipotermia dan juga terlambat mencari pertolongan.

Jika saat melakukan petualangan Sobat Penjelajah menemukan ada orang-orang dalam kategori ini, jangan lupa untuk memperhatikan keadaannya ya!

 
Cara Mencegah Hipotermia di Gunung

Cara mencegah hipotermia tentunya dengan cara meminimalisasi pelepasan panas dan menjaga panas tubuh. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan pelepasan panas dengan mengacu pada mekanisme pelepasan panas yang dibahas sebelumnya:

  • Gunakan pakaian tebal, berlapis, dan tertutup.
    Perhatikan bahan atau material pakaian yang digunakan. Ingat frase “Cotton Kills” atau katun bisa membunuhmu. Ini karena pakaian katun bersifat hidrofilik dan menyerap air. Gunakan pakaian berbahan sintetik yang tidak mudah menyerap air serta cepat kering.
  • Jangan gunakan pakaian basah!
    Pakaian basah melepaskan panas tubuh 25x lebih cepat daripada pakaian kering (Sumber : United States Search and Rescue Task Force, http://www.ussartf.org/). Pakaian basah yang dipadukan dengan angin gunung yang dingin menggigit merupakan combo yang bisa mendatangkan hipotermia dengan cepat. Oleh karena itu pastikan Sobat Penjelajah membawa jas hujan, pakaian ganti yang cukup, serta mengemas pakaian tersebut dengan benar menggunakan bahan tahan air agar tidak basah jika terkena hujan atau tidak sengaja tercebur kedalam sungai dan danau.
 
  • Gunakan tenda atau shelter yang kuat untuk menghalau angin.
  • Jangan bermalam (camping) di areal terbuka yang rentan dengan hembusan angin kencang.
  • Cegah pelepasan panas melalui konduksi dengan cara membawa alas matras yang tebal dan anti air.
  • Gunakan sleeping bag dengan ketebalan yang sesuai dan efek insulasi yang cukup.
  • Makan minum yang hangat dan bergizi.
    Untuk menjaga panas tubuh, pastikan bahwa selama pendakian kita membawa perbekalan yang cukup dan peralatan yang memadai untuk menyalakan api. Makanan dan minuman hangat tinggi kalori berguna sebagai bahan bakar penghasil panas tubuh selama pendakian. Konsumsi kopi sebaiknya dibatasi karena kopi memiliki sifat diuretik yang bisa memicu dehidrasi. Adapun alkohol sebaiknya benar-benar tidak dikonsumsi karena dapat memicu hipotermia melalui mekanisme berikut*:
    • Mengacaukan pengaturan suhu tubuh (thermoregulation) dengan mempengaruhi persepsi otak tentang suhu.
    • Menurunkan respon menggigil sehingga menurunkan kemampuan tubuh memproduksi panas.
    • Vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah perifer yang menyebabkan pelepasan panas lebih cepat.
    • Reaksi mabuk akibat alkohol (linglung, disorientasi, bicara melantur) mirip dengan gejala hipotermia sehingga bisa menimbulkan kesalahan persepsi orang sekitar dan mengakibatkan penanganan yang terlambat.

*Sumber jurnal ilmiah: Freund, Beau, J., et.al. 1994. Alcohol Ingestion and Temperature Regulation During Cold Exposure. Journal of Wilderness Medicine 5: 88-98

Seri Artikel Hipotermia:

 
 
 
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments