Apa itu hipotermia?

Mengenal Apa Itu Hipotermia

Seri Mengenal Apa Itu Hipotermia dan Cara Mengatasi Hipotermia di Gunung – Bagian 1
 

 

 

Sobat Penjelajah terutama pendaki gunung pasti pernah mendengar tentang hipotermia. Terlebih lagi belakangan banyak terdengar kasus hipotermia di gunung yang memakan korban. Selaku pecinta alam atau penggiat petualangan maka sudah sepantasnya kita mengenal apa itu hipotermia, apa gejala hipotermia, dan bagaimana cara mengatasi hipotermia. Terutama para wanita, agar tidak menjadi sasaran modus pihak tidak bertanggungjawab yang menjadikan hipotermia sebagai alasan melakukan pelecehan seperti yang pernah viral beberapa bulan yang lalu.

 
Apa Itu Hipotermia?

Tubuh kita memerlukan suhu optimal agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Bagian otak yang disebut dengan hypothalamus bertugas mengatur suhu tubuh. Adapun suhu tubuh normal adalah antara 36 – 37oC. Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh turun setidaknya 2 derajat atau lebih dari suhu normal.

 
Penyebab Hipotermia

Hipotermia terjadi karena lepasnya panas tubuh yang tidak diimbangi dengan produksi dan retensi panas tubuh yang memadai. Lepasnya panas bisa terjadi melalui sejumlah mekanisme seperti:

  • Konduksi
    Konduksi merupakan lepasnya panas melalui kontak langsung dengan suatu benda. Misalnya saat kita duduk di tanah yang dingin maka ada sejumlah panas yang dilepaskan dari tubuh kita ke tanah.
  • Radiasi
    Radiasi merupakan proses pelepasan panas ke lingkungan. Faktor yang mempengaruhi radiasi adalah luas permukaan yang terekspos dan derajat perbedaan suhu dengan lingkungan.
  • Konveksi
    Konveksi merupakan proses transfer panas melalui aliran. Faktor yang mempengaruhi konveksi adalah densitas zat yang mengalir dan kecepatan aliran. Di ruang terbuka seperti puncak gunung, angin bisa berhembus sangat kencang dan membawa panas tubuh dengan cepat.
  • Evaporasi
    Evaporasi merupakan proses pelepasan panas melalui penguapan air. Contohnya adalah penguapan keringat.
 
Pilihlah pakaian yang tepat untuk pendakian gunung. Beberapa kejadian hipotermia di Indonesia dimulai dari penggunaan pakaian yang tidak mampu memerangkap panas (insulasi buruk)
Beberapa kasus pendaki yang meninggal akibat hipotermia di gunung juga karena kurangnya perbekalan makanan yang cukup menghasilkan energi dan panas tubuh.
 
Mekanisme Hipotermia

Hipotermia terjadi saat produksi dan retensi panas gagal mengimbangi lepasnya panas. Pada saat tubuh terpapar suhu dingin, hypothalamus di otak akan merespon dengan memberikan sinyal untuk meningkatkan metabolisme dalam rangka menjaga suhu tubuh tetap stabil. Reaksi yang dapat diamati adalah menggigil. Menggigil merupakan upaya tubuh untuk bisa memproduksi panas tubuh hingga 2 – 5x kondisi normal. Kemudian pembuluh di jaringan tepi (perifer) akan mengalami vasokonstriksi atau penyempitan. Sehingga darah tidak banyak dialirkan ke perifer melainkan lebih dipusatkan pada organ penting (inti tubuh seperti paru-paru, jantung, dan otak) untuk menjaganya tetap hangat dan dapat berfungsi normal.

Jika kondisi terus berlanjut tanpa penanganan, tubuh tidak mampu lagi menghasilkan panas melalui mekanisme menggigil karena kehabisan energi. Otot pembuluh darah di jaringan perifer lama kelamaan lelah dan masuk ke fase relaksasi. Pada fase ini pembuluh darah perifer mengalami vasodilatasi atau pelebaran yang menyebabkan aliran darah yang tadinya terkonsentrasi di inti tubuh dilepaskan kembali ke perifer. Ini menimbulkan sensasi panas palsu yang membuat penderita kadang mengalami apa yang disebut Paradoxical Undressing.

 
Pembuatan jaket gunung komunitas pendaki - B-ORI ADVERTISING & KONVEKSI
Bikin jaket gunung komunitas untuk kelompok kamu yang sering naik gunung bareng. Buat jaket di B-Ori Advertising cuma bikin jumlah dikit bisa lho! Mulai 12 pcs aja kamu udah bisa punya jaket custom untuk komunitas kamu!
 
Paradoxical Undressing

Paradoxical Undressing adalah kondisi dimana penderita hipotermia merasa seolah-olah kepanasan. Sensasi panas tersebut berkebalikan dengan kondisi tubuh yang sebenarnya kedinginan (paradoks). Sensasi panas palsu tersebut membuat penderita membuka baju. Paradoxical Undressing membuat tubuh penderita semakin terekspos dengan lingkungan yang dingin dan memperparah hipotermia. Fenomena Paradoxical Undressing seringkali diikuti dengan Terminal Burrowing.

 
Terminal Burrowing

Terminal Burrowing adalah kondisi dimana penderita hipotermia parah mencari tempat sempit untuk meringkuk. Hal ini terjadi diakibatkan otak sudah tidak mampu lagi berpikir logis dan kembali pada insting primitif untuk bersembunyi.

Pada tahap lanjut ini penderita sudah tidak bisa berpikir dengan benar. Penderita tidak mampu menolong diri sendiri dan perlu bantuan dari orang  lain. Oleh karena itu pengetahuan akan hipotermia sangatlah penting. Jika terus dibiarkan maka kondisi penderita akan semakin memburuk. Fungsi tubuh semakin menurun, penderita kehilangan kesadaran, jatuh kedalam koma, dan meninggal dunia.

 
Prinsip Dasar Penanganan Hipotermia

Hipotermia adalah suatu kondisi yang bisa dicegah. Persiapan yang baik dan pengetahuan yang cukup bisa menghindarkan kita dan orang disekitar kita dari risiko hipotermia. Hipotermia ringan umumnya bisa diatasi di lapangan. Sedangkan pada hipotermia sedang, penanganannya lebih sulit. Terlebih lagi hipotermia parah, dimana tanda vital kehidupan sudah mulai menghilang, sangat dibutuhkan intervensi medis dengan segera. Jika sudah seperti ini maka penanggulangannya sulit dan berisiko tinggi. Penderita perlu dievakuasi dengan hati-hati. Meskipun secara denyut nadi tidak teraba, belum tentu pasien hipotermia sudah meninggal dunia.

Karena itu dalam aksi penyelamatan hipotermia dikenal istilah “Nobody is dead until warm and dead”. Upaya untuk menyelamatkan penderita hipotermia harus terus dilakukan sampai suhu penderita tidak dingin lagi agar bisa benar diketahui apakah penderita berhasil selamat atau meninggal akibat hipotermia.

 
 
 
 
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments