Apa itu hipotermia?

Mengenal Apa Itu Hipotermia dan Cara Mengatasinya

Mengenal Apa Itu Hipotermia dan Cara Mengatasi Hipotermia di Gunung
 

 

 

Sobat Penjelajah terutama pendaki gunung pasti pernah mendengar tentang hipotermia. Terlebih lagi belakangan banyak terdengar kasus hipotermia di gunung yang memakan korban. Selaku pecinta alam atau penggiat petualangan maka sudah sepantasnya kita mengenal apa itu hipotermia, apa gejala hipotermia, dan bagaimana cara mengatasi hipotermia. Terutama para wanita, agar tidak menjadi sasaran modus pihak tidak bertanggungjawab yang menjadikan hipotermia sebagai alasan melakukan pelecehan seperti yang pernah viral beberapa bulan yang lalu.

 
Apa Itu Hipotermia?

Tubuh kita memerlukan suhu optimal agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Bagian otak yang disebut dengan hypothalamus bertugas mengatur suhu tubuh. Adapun suhu tubuh normal adalah antara 36 – 37oC. Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh turun setidaknya 2 derajat atau lebih dari suhu normal.

 
Penyebab Hipotermia

Hipotermia terjadi karena lepasnya panas tubuh yang tidak diimbangi dengan produksi dan retensi panas tubuh yang memadai. Lepasnya panas bisa terjadi melalui sejumlah mekanisme seperti:

  • Konduksi
    Konduksi merupakan lepasnya panas melalui kontak langsung dengan suatu benda. Misalnya saat kita duduk di tanah yang dingin maka ada sejumlah panas yang dilepaskan dari tubuh kita ke tanah.
  • Radiasi
    Radiasi merupakan proses pelepasan panas ke lingkungan. Faktor yang mempengaruhi radiasi adalah luas permukaan yang terekspos dan derajat perbedaan suhu dengan lingkungan.
  • Konveksi
    Konveksi merupakan proses transfer panas melalui aliran. Faktor yang mempengaruhi konveksi adalah densitas zat yang mengalir dan kecepatan aliran. Di ruang terbuka seperti puncak gunung, angin bisa berhembus sangat kencang dan membawa panas tubuh dengan cepat.
  • Evaporasi
    Evaporasi merupakan proses pelepasan panas melalui penguapan air. Contohnya adalah penguapan keringat.
 
Pilihlah pakaian yang tepat untuk pendakian gunung. Beberapa kejadian hipotermia di Indonesia dimulai dari penggunaan pakaian yang tidak mampu memerangkap panas (insulasi buruk)
Beberapa kasus pendaki yang meninggal akibat hipotermia di gunung juga karena kurangnya perbekalan makanan yang cukup menghasilkan energi dan panas tubuh.
 
Mekanisme Hipotermia

Hipotermia terjadi saat produksi dan retensi panas gagal mengimbangi lepasnya panas. Pada saat tubuh terpapar suhu dingin, hypothalamus di otak akan merespon dengan memberikan sinyal untuk meningkatkan metabolisme dalam rangka menjaga suhu tubuh tetap stabil. Reaksi yang dapat diamati adalah menggigil. Menggigil merupakan upaya tubuh untuk bisa memproduksi panas tubuh hingga 2 – 5x kondisi normal. Kemudian pembuluh di jaringan tepi (perifer) akan mengalami vasokonstriksi atau penyempitan. Sehingga darah tidak banyak dialirkan ke perifer melainkan lebih dipusatkan pada organ penting (inti tubuh seperti paru-paru, jantung, dan otak) untuk menjaganya tetap hangat dan dapat berfungsi normal.

Jika kondisi terus berlanjut tanpa penanganan, tubuh tidak mampu lagi menghasilkan panas melalui mekanisme menggigil karena kehabisan energi. Otot pembuluh darah di jaringan perifer lama kelamaan lelah dan masuk ke fase relaksasi. Pada fase ini pembuluh darah perifer mengalami vasodilatasi atau pelebaran yang menyebabkan aliran darah yang tadinya terkonsentrasi di inti tubuh dilepaskan kembali ke perifer. Ini menimbulkan sensasi panas palsu yang membuat penderita kadang mengalami apa yang disebut Paradoxical Undressing.

 
Paradoxical Undressing

Paradoxical Undressing adalah kondisi dimana penderita hipotermia merasa seolah-olah kepanasan. Sensasi panas tersebut berkebalikan dengan kondisi tubuh yang sebenarnya kedinginan (paradoks). Sensasi panas palsu tersebut membuat penderita membuka baju. Paradoxical Undressing membuat tubuh penderita semakin terekspos dengan lingkungan yang dingin dan memperparah hipotermia. Fenomena Paradoxical Undressing seringkali diikuti dengan Terminal Burrowing.

 
Terminal Burrowing

Terminal Burrowing adalah kondisi dimana penderita hipotermia parah mencari tempat sempit untuk meringkuk. Hal ini terjadi diakibatkan otak sudah tidak mampu lagi berpikir logis dan kembali pada insting primitif untuk bersembunyi.

Pada tahap lanjut ini penderita sudah tidak bisa berpikir dengan benar. Penderita tidak mampu menolong diri sendiri dan perlu bantuan dari orang  lain. Oleh karena itu pengetahuan akan hipotermia sangatlah penting. Jika terus dibiarkan maka kondisi penderita akan semakin memburuk. Fungsi tubuh semakin menurun, penderita kehilangan kesadaran, jatuh kedalam koma, dan meninggal dunia.

 
Prinsip Dasar Penanganan Hipotermia

Hipotermia adalah suatu kondisi yang bisa dicegah. Persiapan yang baik dan pengetahuan yang cukup bisa menghindarkan kita dan orang disekitar kita dari risiko hipotermia. Hipotermia ringan umumnya bisa diatasi di lapangan. Sedangkan pada hipotermia sedang, penanganannya lebih sulit. Terlebih lagi hipotermia parah, dimana tanda vital kehidupan sudah mulai menghilang, sangat dibutuhkan intervensi medis dengan segera. Jika sudah seperti ini maka penanggulangannya sulit dan berisiko tinggi. Penderita perlu dievakuasi dengan hati-hati. Meskipun secara denyut nadi tidak teraba, belum tentu pasien hipotermia sudah meninggal dunia.

Karena itu dalam aksi penyelamatan hipotermia dikenal istilah “Nobody is dead until warm and dead”. Upaya untuk menyelamatkan penderita hipotermia harus terus dilakukan sampai suhu penderita tidak dingin lagi agar bisa benar diketahui apakah penderita berhasil selamat atau meninggal akibat hipotermia.

 
Kelompok yang Lebih Rentan Terkena Hipotermia

Sejumlah kelompok memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena hipotermia dibandingkan kelompok lainnya. Anak-anak dan orang tua misalnya, lebih rentan terkena hipotermia dibandingkan orang dewasa. Anak-anak umumnya belum bisa memahami bahaya dan melakukan tindakan melindungi dirinya sendiri. Sementara orang tua atau lansia memiliki laju metabolisme yang lebih rendah sehingga lebih sulit untuk menghasilkan panas.

Orang yang memiliki gangguan fungsi kognitif juga berisiko lebih tinggi terkena hipotermia. Penderita demensia (pikun), keterbelakangan mental, serta pengguna obat-obatan tertentu masuk kedalam kategori ini. Kurangnya kemampuan berpikir bisa menyebabkan orang tidak melakukan tindakan pencegahan hipotermia dan juga terlambat mencari pertolongan.

Jika saat melakukan petualangan Sobat Penjelajah menemukan ada orang-orang dalam kategori ini, jangan lupa untuk memperhatikan keadaannya ya!

 

Cara Mencegah Hipotermia di Gunung

 

Cara mencegah hipotermia tentunya dengan cara meminimalisasi pelepasan panas dan menjaga panas tubuh. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan pelepasan panas dengan mengacu pada mekanisme pelepasan panas yang dibahas sebelumnya:

 
Pembuatan jaket gunung komunitas pendaki - B-ORI ADVERTISING & KONVEKSI
Bikin jaket gunung komunitas untuk kelompok kamu yang sering naik gunung bareng. Buat jaket di B-Ori Advertising cuma bikin jumlah dikit bisa lho! Mulai 12 pcs aja kamu udah bisa punya jaket custom untuk komunitas kamu!
 
  • Gunakan pakaian tebal, berlapis, dan tertutup.
    Perhatikan bahan atau material pakaian yang digunakan. Ingat frase “Cotton Kills” atau katun bisa membunuhmu. Ini karena pakaian katun bersifat hidrofilik dan menyerap air. Gunakan pakaian berbahan sintetik yang tidak mudah menyerap air serta cepat kering.
  • Jangan gunakan pakaian basah!
    Pakaian basah melepaskan panas tubuh 25x lebih cepat daripada pakaian kering (Sumber : United States Search and Rescue Task Force, http://www.ussartf.org/). Pakaian basah yang dipadukan dengan angin gunung yang dingin menggigit merupakan combo yang bisa mendatangkan hipotermia dengan cepat. Oleh karena itu pastikan Sobat Penjelajah membawa jas hujan, pakaian ganti yang cukup, serta mengemas pakaian tersebut dengan benar menggunakan bahan tahan air agar tidak basah jika terkena hujan atau tidak sengaja tercebur kedalam sungai dan danau.
  • Gunakan tenda atau shelter yang kuat untuk menghalau angin.
  • Jangan bermalam (camping) di areal terbuka yang rentan dengan hembusan angin kencang.
  • Cegah pelepasan panas melalui konduksi dengan cara membawa alas matras yang tebal dan anti air.
  • Gunakan sleeping bag dengan ketebalan yang sesuai dan efek insulasi yang cukup.
  • Makan minum yang hangat dan bergizi.
    Untuk menjaga panas tubuh, pastikan bahwa selama pendakian kita membawa perbekalan yang cukup dan peralatan yang memadai untuk menyalakan api. Makanan dan minuman hangat tinggi kalori berguna sebagai bahan bakar penghasil panas tubuh selama pendakian. Konsumsi kopi sebaiknya dibatasi karena kopi memiliki sifat diuretik yang bisa memicu dehidrasi. Adapun alkohol sebaiknya benar-benar tidak dikonsumsi karena dapat memicu hipotermia melalui mekanisme berikut*:
    • Mengacaukan pengaturan suhu tubuh (thermoregulation) dengan mempengaruhi persepsi otak tentang suhu.
    • Menurunkan respon menggigil sehingga menurunkan kemampuan tubuh memproduksi panas.
    • Vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah perifer yang menyebabkan pelepasan panas lebih cepat.
    • Reaksi mabuk akibat alkohol (linglung, disorientasi, bicara melantur) mirip dengan gejala hipotermia sehingga bisa menimbulkan kesalahan persepsi orang sekitar dan mengakibatkan penanganan yang terlambat.
 

*Sumber jurnal ilmiah: Freund, Beau, J., et.al. 1994. Alcohol Ingestion and Temperature Regulation During Cold Exposure. Journal of Wilderness Medicine 5: 88-98

 

Gejala Hipotermia dan Cara Mengatasi Hipotermia di Gunung

 

Meski sudah mempersiapkan segalanya dengan baik, tidak ada salahnya jika kita mengetahui dasar-dasar pengobatan atau pertolongan pertama pada hipotermia. Mengatasi hipotermia perlu dilakukan dengan mempertimbangkan gejala hipotermia yang muncul. Hal ini karena diperlukan tipe penanganan yang berbeda untuk setiap tahapan hipotermia.

Untuk mengetahui secara pasti tahap dan derajat keparahan hipotermia kita perlu mengukur suhu inti tubuh. Termometer yang bisa digunakan adalah thermometer epitimfani. Akan tetapi seringkali tidak tersedia alat ukur yang memadai dikala darurat, terlebih lagi di alam bebas. Sehingga penting sekali bagi pecinta alam untuk bisa mengetahui gejala hipotermia pada setiap tahapan untuk bisa menentukan langkah pertolongan pertama yang tepat. Penanganan yang salah ataupun terlambat bisa mengakibatkan hilangnya nyawa.

 
Gejala Hipotermia Berdasarkan Tingkat Keparahannya. Sumber : realfirstaid.co.uk
Gejala Hipotermia Berdasarkan Tingkat Keparahannya (Sumber : realfirstaid.co.uk)
 
Gejala Hipotermia Ringan

Pada tahap ini penderita hipotermia masih sadar, bisa diajak berbicara, serta bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Penderita umumnya menggigil kencang yang menandakan bahwa fungsi pengaturan suhu tubuh (thermoregulation) masih berjalan. Pada kondisi ini penderita masih bisa menghasilkan panas sendiri sehingga tidak perlu sumber panas eksternal seperti skin-to-skin contact.

 
Cara Mengatasi Hipotermia Ringan

Tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi hipotermia ringan adalah:

  • Menghindari paparan angin dan udara secara langsung (mencari / membuat tempat berlindung atau shelter).
  • Mengganti pakaian penderita jika basah.
  • Memberikan pakaian ganti yang kering dan tebal. Pastikan penderita tidak kehilangan panas lebih lanjut dengan memberikan insulasi yang cukup (misalnya memasangkan emergency blanket dan memasukkan penderita kedalam sleeping bag).
  • Segera beri penderita makanan atau minuman tinggi kalori yang mudah dicerna dan hangat. Contoh yang baik adalah minuman coklat hangat yang manis atau minuman tradisional yang mengandung jahe.
  • Jangan berikan kopi karena kopi bersifat diuretik serta bisa memicu dehidrasi.
  • Jangan pula memberikan minuman beralkohol karena akan memperparah hipotermia.
 
Gejala Hipotermia Sedang

Pada tahap ini suhu inti tubuh semakin turun. Penderita mungkin masih sadar namun sudah sulit untuk berpikir, berbicara, dan mengontrol gerakan. Oleh karena itu cara untuk mengecek yang bisa dilakukan selain mengukur suhu penderita adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cukup sulit semisal menghitung mundur dengan kelipatan tertentu. Selain itu, dari cara berjalannya, pada tahap ini penderita biasanya sempoyongan dan sulit berjalan lurus. Vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah perifer juga membuat penderita kesulitan melakukan gerakan mendetail dengan ujung-ujung jarinya (semisal mengkancingkan baju atau menyimpul tali sepatu), serta bibir mulai membiru.

Pada tahap hipotermia sedang yang sudah semakin parah, tubuh sudah letih dan kehabisan energi untuk menggigil. Pada tahap ini penderita tidak sanggup menghasilkan panas tubuh yang cukup dan benar-benar membutuhkan pertolongan dari orang lain. Pada tahap ini terkadang ditemui fenomena Paradoxical Undressing dan Terminal Burrowing yang telah dibahas sebelumnya.

 
Cara Mengatasi Hipotermia Sedang

Mengobati hipotermia sedang harus dilakukan dengan hati-hati. Peningkatan panas tubuh harus dilakukan secara perlahan-lahan dan gerakan tidak boleh agresif. Gerakan yang kasar dan agresif bisa memicu fibrilasi ventrikel atau gangguan jantung dimana ventrikel jantung (ruang jantung yang bertugas mempompa darah) berfibrilasi atau bergetar yang mana seharusnya ia berkontraksi untuk memompa darah. Fibrilasi ventrikel bisa mengakibatkan gagal jantung dan kematian.

Tindakan yang bisa dilakukan jika melihat penderita hipotermia sedang adalah:

  • Pada tahap ini penderita sudah mulai terganggu persepsi panas dan fungsi kognitifnya. Jangan hiraukan jika penderita menolak untuk ditangani. Tetap lakukan prosedur penyelamatan.
  • Hindarkan penderita dari paparan angin dan udara secara langsung (bawa masuk kedalam shelter).
  • Buat sumber panas eksternal dengan cara menyalakan pemanas atau api namun jangan terlalu dekat dengan penderita agar tidak terjadi peningkatan suhu secara ekstrim.
  • Ganti pakaian penderita jika basah. Jika kondisi penderita sudah mengkhawatirkan, lepas pakaian basah dengan cara digunting untuk menghindari gerakan kasar.
  • Pakaikan diaper dewasa jika ada dan pakaikan baju ganti yang kering dan tebal. Diaper berfungsi untuk mencegah kencing pasien membasahi selimut hipotermia.
  • Buat sistem insulasi untuk penderita agar mencegah hilangnya panas dengan cara membuat selimut hipotermia (hypothermia wrap).
  • Jika kesadaran penderita sudah mulai menghilang, jangan paksakan memberi minuman untuk mencegah terhalangnya jalan napas akibat muntahan. Berikan minuman manis hangat hanya jika pasien memiliki kesadaran yang cukup untuk bisa menelan. Awasi kondisi penderita, jika kondisi semakin memburuk yang ditandai dengan semakin hilangnya kesadaran dan melemahnya tanda vital kehidupan, segera lakukan evakuasi pasien hipotermia dengan membawanya tetap dalam selimut hipotermia.
 
Selimut Hipotermia (Hypothermia Wrap)

Selimut hypothermia atau hypothermia wrap merupakan sistem insulasi yang dibuat dengan tujuan mencegah lepasnya panas tubuh penderita ke lingkungan. Oleh karena itu prinsipnya adalah mencegah pelepasan panas  lewat mekanisme konduksi, konveksi, radiasi, ataupun evaporasi. Berikut adalah cara membuat selimut hipotermia atau hypothermia wrap:

  • Cari bahan yang anti air, anti angin, dan lebar. Contohnya terpal. Bentangkan.
  • Pasang material yang bisa memberikan insulasi dengan tanah sekaligus memberikan bentuk dan support tubuh penderita contohnya matras anti air.
  • Siapkan beberapa lapis selimut, sleeping bag, dan emergency blanket metalik jika ada. Emergency blanket metalik berfungsi untuk memantulkan panas kembali ke dalam.
  • Baringkan pasien diantara lapisan tersebut, pastikan postur tubuh tersokong dengan baik.
  • Tempatkan botol yang telah diisi air hangat dan dibungkus kain (untuk mencegah kulit terbakar) pada titik-titik yang terdapat arteri utama tubuh yaitu leher, ketiak, dan selangkangan.
  • Bungkus selimut hipotermia dengan baik dan ketat.
  • Ketebalan selimut hipotermia harus mencapai setidaknya 10 cm, terpasang ketat, dan meng-imobilisasi gerakan pasien. Sehingga seringkali diibaratkan dengan Giant Burrito atau burrito raksasa.
 
Selimut Hipotermia (Hypothermia Wrap) – Sumber : ussartf.org
 
Gejala Hipotermia Berat

Pada tahap ini penderita hilang kesadaran dan tanda-tanda kehidupan mulai melemah bahkan tidak tampak. Hipotermia berat tidak bisa diatasi di alam dan harus segera dilakukan evakuasi ke rumah sakit. Evakuasi dilakukan dengan membawa pasien menggunakan selimut hipotermia.

 
Pertolongan Pertama Pada Hipotermia Berat

Pertolongan pertama pada tahap hipotermia berat harus dilakukan oleh orang berpengalaman. Jika tanda vital kehidupan masih terdeteksi, relawan bisa melakukan napas buatan. Napas buatan membantu ketersedian oksigen bagi pasien dan meningkatkan suhu inti tubuh dengan perlahan. Berhasilnya napas buatan ditandai dengan kembali menguatnya tanda vital kehidupan. Jangan lakukan CPR pada tahap ini.

Jika tanda vital kehidupan benar-benar tidak terdeteksi, relawan bisa melakukan CPR. Hati-hati! Prosedur ini harus dilakukan oleh orang berpengalaman karena metode yang salah bisa memicu fibrilasi ventrikel yang mengancam jiwa.

 

Nah Sobat Penjelajah, itu dia penjelasan mengenai bagaimana cara mengatasi hipotermia di gunung. Apabila kita amati, sebetulnya hipotermia merupakan hal yang dapat dicegah jika kita mempersiapkan perjalanan dengan matang dan membekali diri kita dengan pengetahuan yang cukup.

Semoga tidak menyurutkan tekad Sobat Penjelajah semua untuk berpetualang ke gunung, jangan lupa share info ini ke teman dan sahabatmu ya! Siapa tahu suatu saat informasi ini bisa berguna dan membantu menyelamatkan banyak nyawa.

Salam Cerdas Berpetualang!

 
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments