Pada Kala Kita Bersama

Pagi hari di bulan Juli, Sandi dengan muka cerianya, pergi ke halaman untuk menikmati cahaya mentari. Ia mulai duduk, membuka buku puisi, dan menatap pemandangan yang ada di depannya. Tanpa disadari, muncul kenangan dikepalanya bersama seorang wanita yang dulu ia cintai. Seorang kembang desa, rupanya cantik, kulitnya putih, matanya sayu, dan bibirnya merah menggoda, seperti ceri masak yang memikat banyak burung jalang untuk memakannya. Rajin beribadah lekat dengan dirinya, bahkan dia adalah gadis paling religius di desanya. Dia lah Elena, wanita yang dapat membuat Sandi kesengsem bukan kepalang.

Foto utama: wajibbaca.com

Sandi tersenyum, mengingat kenangan indah yang mereka lalui bersama. Ketika ia mulai menggenggam tangan Elena dan menatapnya, dari bibir merah Elena terucap sebuah kata; “Mas, Aku cinta padamu. Jangan tinggalkan Aku ya.” Sandi tersenyum manis dan berkata; “Iya, Aku pun cinta kepadamu Elena. Susah dan senang kita lalui bersama-sama ya.” Mega mulai mendung di pagi itu. Sandi, tetap saja melanjutkan lamunannya. Ia mengingat kembali kejadian indah pada saat senja di sebuah pantai, desiran ombak yang menggulung-gulung tiada habisnya, serta amisnya angin pantai yang menerpa mereka berdua pada saat menatap senja. Ia pun membacakan sebuah puisi untuk Elena “Kali ini, senja cemburu padaku. Dia tau, aku datang kesini bukan untuknya. Melainkan, untuk kembang desa yang sabar menemani hariku, tanpa ada kerut di wajahnya.” Elena tersipu malu, bertingkah seperti anak kecil diberi permen oleh kakaknya, dan menjatuhkan kepala di pundak Sandi. Sandi tertawa dan mengusap kepala Elena dengan lembut.

Warna mega semakin pekat, seakan langit tidak mau lagi kenal dengannya. Kali ini senyuman tidak terlihat dimata Sandi, melainkan nafas yang cepat dan tidak teratur menguasai dirinya. Matanya pun ikut melotot seakan setan sedang menguji ketabahannya. Ia mengingat kenangan pahit. Pada suatu hari, ia merencanakan untuk melamar kekasihnya, membawa sekeranjang bunga, dan menyimpan sebuah cicin emas di saku kanan celana jeansnya. Hal tak terduga pun muncul, seperti petir menyabar pohon di siang bolong. Ia melihat kekasihnya bergandengan tangan dengan lelaki lain. Marah, kecewa, dan sedih ia tumpahkan dalam satu ekspresi yang tak percaya bahwa Elena akan mengkhianati ia dengan cara seperti itu. Sontak ia membanting bunga dan cincin ke jalanan. Ia pun berkata; “Dasar wanita pelacur tak tau di untung!” Ia menghampiri Elena dengan berapi-api dan menamparnya. Satu, dua bogem mentah ia daratkan ke wajah lelaki keparat selingkuhan Elena. Lalu ia melihat Elena penuh dendam dan benci serta mengatakan bahwa hubungan mereka hari ini telah berakhir.

Hujan pun akhirnya turun, membasahi tanah kering dan membangunkan ia dari kenangannya. Ketawa sejadi-jadinya, mengingat hal bodoh yang dulu pernah ia lakukan. Ia membereskan bukunya dan beranjak dari tempat duduknya untuk berteduh kedalam rumah. Dalam lubuk hatinya, wanita adalah racun waktu yang kapan saja bisa membunuhnya.

Tinggalkan Balasan