Kali Ini Kalian Tak Akan Bisa Lolos Dariku

SurveyTime - alternatif pendapatan bagi petualang dan traveler

Pagi ini kami bakal menerabas hutan kembali. Apapun risikonya kami harus menangkapnya. Sudah kupersiapkan hari sial itu untuknya. Tidak bakal lolos lagi! Tidak mungkin ia bisa menghindari becengku kali ini.

***

Sudah kususuri kawasanku sejak matahari belum timbul. Banyak tempat sudah berubah. Aku belum tolol untuk lupa jalan pulang dan melanglang. Pohon-pohon pelan-pelan hilang dari hutanku. Panas. Kering.

Tak kedengaran lagi jerit monyet di batang pohon sana. Burung-burung juga jarang terlihat. Ah, di sini, seharusnya ada pohon mahoni! Aku tak mungkin melupakannya. Terakhir kali, kulihat beberapa kawanku dibawa dengan luka menganga. Anak-anak lebih kecil dariku diikat paksa. Saat itu, ingin sekali kucabik makhluk itu dari belakang. Tapi, mereka membawa senjata. Meletus berkali-kali memburuku. Monyet-monyet menjerit. Burung berhambur kacau. Bahkan rusa terkencing-kencing menyelamatkan diri. Suara itu masih terus bergema di ingatan. Sering kali, aku bergidik mengingatnya. Aku tak berdaya. Aku belum kuat saat itu.

Sekali waktu kulihat makhluk itu sangat keji. Kulit kawanku disayat-sayat, perutnya dicincang. Janin diambil lalu mereka simpan ke dalam wadah. Makhluk itu tertawa. Menari-nari. Dari situ aku paham. Hutan semakin sepi. Hening.

Apakah kami punya salah? Kami tak memburu makhluk itu. Kami makan dari hutan. Kami tak pernah ganggu mereka. Kalau pun makhluk itu mati. Itu karena kawasan kami rusak. Kami tak berniat mangsa makhluk itu. Kami berhak marah bukan? Makhluk itu merusak hutan, membakar pohon. Makanan kami hilang. Kami lapar. Kami dibunuh.

Kata mereka tubuh kami berharga? Mereka itu pintarkan? Taring dan cakar kami penuh bakteri. Tak berkhasiat. Lalu, kenapa makhluk itu terus memburu kami?!

***

Ini musim yang tepat berburu harimau. Mereka keluar dari sarang dengan keadaan lapar dan haus. Air menguap. Daun mengering. Gersang.

Aku dan kawanku menyiapkan kambing dan beceng. Badan kambing tersebut kami lumuri racun. Aku yakin, ketika kambing ini dimakan pelan-pelan harimau itu pasti mati. Ini cara paling aman daripada harus bertatap muka dengannya.

Di pasar gelap harga tubuh harimau naik lagi. Banyak tokeh siap tampung. Dengan uang itu dapur kami bisa berasap. Tak perlu banting tulang di kebun sawit. Kami tak suka kerja di sana. Upah kecil. Resiko besar. Saban hari dimarahi bos. Kampung kami juga rusak. Air di kampung semakin sulit didapat.

Lebih baik berburu harimau, untungnya besar. Kami tak peduli peraturan bahwa harimau dilindungi oleh negara. Apa yang negara tahu tentang kami? Yang mereka tahu hanya uang. Mereka tak tahu kehidupan di pelosok begitu susah. Lapangan kerja terbatas. Transportasi mahal. Tidak ada uang dan pekerjaan kami tidak bisa hidup. Belum lagi kebutuhan sekolah anak dan makanan di dapur. Berhutang pada rentenir buat kami makin tercekik. Kami harus berburu harimau. Kalau tidak berburu kami diteror lapar dan lintah darat. Juga orang-orang kampung bisa mati diburu harimau akibat pembukaan lahan sawit. Jadi, negara tahu apa tentang kami?

***

Beberapa tahun lalu bos sawit sering berkunjung ke kampung ditemani pejabat daerah. Bos sawit membeli hutan di sekitar kampung untuk dijadikan lahan sawit perusahaannya. Puluhan ribu hektar hutan dibabat habis olehnya. Bahkan, ia tak segan menyuruh anak buahnya membakar hutan. Dari situ baru kami tahu. Hutan sengaja dibakar. Gara-gara pembakaran hutan warga kampung terkena penyakit pernafasan. Tetua Adat pernah layangkan protes bahwa merusak hutan akan membuat penghuninya marah. Ekosistem pun ikut terganggu. Tetua Adat meminta bos sawit bertanggung jawab. Tetapi bos sawit selalu bilang:

“Itu salah kalian, kenapa kalian tetap tinggal di daerah perkebunan sawit. Lagian kalian juga menikmati uang dari perkebunan itu.”

Perkataan bos sawit betul-betul menusuk jantung kami. Benar, dengan terpaksa, kami akui, bahwa kebun sawit sangat membantu ekonomi warga kampung. Warga bisa dapat uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Tak puas dengan jawaban bos sawit, Tetua Adat mendatangi pejabat daerah setempat. Jawaban pejabat itu sama saja. Tak memuaskan, tak memberikan solusi untuk kampung kami. Apa perlu mulut mereka kami sumpal segepok uang baru mau bekerja?

***

Hari ini begitu cerah. Panas. Lelah. Aku harus bisa bertahan lagi di musim panas ini. Untung sudah kutandai lokasi mata air dan menyisakan beberapa daging di persembunyian. Makhluk itu pasti mulai memburuku lagi! Datanglah. Sudah kupersiapkan bermacam cara untuk mengecoh kalian. Bawa saja kambing itu dan sembunyi sesuka kalian. Aku sudah tahu trik murahan itu. Kalian pikir aku bodoh? Aku bukan seperti kawanku yang gampang kalian tipu. Kali ini kalian tak akan bisa lolos dariku!

***

Pagi ini kami menerabas hutan kembali. Apapun risikonya kami harus menangkap harimau. Sudah kupersiapkan hari sial itu untuknya. Tidak bakal lolos lagi! Tidak mungkin ia bisa menghindari becengku kali ini.

Sesampai di hutan, kami langsung menaruh beberapa daging di penjerat. Semoga saja kali ini harimau itu kena penjerat dan mati tercekik. Tak hanya menunggu harimau terjerat, kami juga menyiapkan kambing beracun. Kulitnya kami robek sedikit agar bau darah tercium harimau.

Sudah berjam-jam kami awasi kambing itu. Harimau tak kunjung muncul. Beberapa kawanku yang berpatroli belum juga kembali. Hari semakin habis. Hutan semakin sunyi. Gelap. Suasana semakin mencekam. Kami tinggal bertiga. Kawan-kawanku yang lain belum juga kembali. Aku semakin cemas.

Dari kejauhan terdengar suara geram. Gesekan daun ada di mana-mana. Kambing mengembik gelisah. Kami cemas. Berpikir dari mana ia akan muncul.

Tiba-tiba dari arah kiri, dia menerkam! Salah satu kawanku perutnya robek. Auman harimau itu terdengar lantang. Menusuk telinga. Bulu roma kami bergidik. Spontan kawanku teriak ketakutan,  terkencing. Harimau itu melirik ke arahku. Penuh dendam. Dia melompat ke arahku. Tapi, aku beruntung. Aku tersandung. Jatuh. Aku terhindar dari terkaman itu. Tapi sial! Kawanku malang. Ia berdiri di belakangku. Lehernya diterkam harimau! Binatang buas itu merobek-robek tubuh kawanku. Tubuhku berguncang hebat. Kawanku menjerit:

“TOLOOONG. TOLOOONG!!!”

Teriaknya membangunkanku dari rasa takut. Dengan sigap beceng di tangan, kuarahkan langsung ke kepala harimau itu dan dor, dor!

Kepala harimau itu berlubang. Ia lari terbirit-birit masuk ke dalam hutan dengan darah berceceran.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments