Kami Jelaskan Tujuan Kami Mengarungi Jeram

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Soe Hok Gie
 

Demikian Soe Hok Gie mengungkapkan apa tujuannya naik gunung. Memang slogan saja tak mampu membuat seorang anak manusia mencintai tanah airnya. Termasuk tulisan Soe Hok Gie ini pun juga hanya akan menjadi slogan jika tak disertai pembuktian secara langsung. Mengenal Indonesia berarti mengenal rakyatnya, dan mengenal rakyat adalah berarti sebuah komunikasi langsung, dua arah, dan turut merasakan duduk di atas bumi yang sama, dengan alas atau tanpa alas sama sekali, yang berarti berada di tengah – tengah mereka secara langsung.

Meski sepakat dengan kata – kata Soe Hok Gie tentang gunung, disini aku coba jelaskan hal yang sebenarnya tak begitu banyak berbeda dengan apa yang ingin diungkapkan oleh Soe Hok Gie. Disini aku coba jelaskan apa sebenarnya tujuan kami mengarungi jeram.

Dahulu, sungai adalah tempat dimana peradaban manusia berdiri untuk pertama kali. Ia adalah anugerah Tuhan dengan sumber daya yang berlimpah di dalamnya serta sangat mudah pula untuk mendapatkan isinya kala itu. Karena itulah penduduk di sekitar sungai adalah umumnya masyarakat yang ramah. Dan adalah keharusan bagi kami untuk berbicara dengan mereka tiap kali kami akan turun ke sungai. Kami menjadi kenal mereka, budaya mereka, sejarah mereka, sampai keluh kesah mereka tentang hidup. Mereka memang tak katakan bahwa masalah mereka adalah masalah keadilan atau kebijaksanaan yang tak bijaksana. Hanya perut. Terdengar sederhana memang yang mereka permasalahkan, perut. Tapi sedikit banyak kami tau bagaimana rumitnya itu.

Sebagian mereka ternyata menyimpan cerita yang tak tertulis di buku sejarah kami kala Sekolah Dasar, atau Menengah. Di satu desa, ada yang bercerita bahwa dulu desa mereka disinggahi pasukan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Tanpa ada mimik politis terukir di wajah mereka, mereka bercerita tentang kebaikan Kartosoewirjo dan pembunuhan karakter yang dilakukan Presiden Soekarno kala itu terhadap Kartosoewirjo. Di desa lain, cerita baru juga kami temukan bahwa dulu di desa tersebut pernah pula dijadikan tempat bagi para anggota PKI untuk berlindung. Terlepas dari kebenaran cerita mereka, kami menjadi kenal bahwa di bangsa ini masih ada masyarakat yang berada di pojok – pojok bumi, tak terperhatikan oleh kebanyakan kita yang menyebut diri kita kaum terdidik. Dan peradaban kecil mereka itu kami temukan di sisi sungai.

Sungai yang mengalir, ibarat hidup yang juga mengalir menurut waktu, menembus periodisasi zaman dan pengkotakan masa. Di satu ruas alirannya tenang, namun di ruas berikutnya ribut oleh jeram, penuh ketidakpastian. Selalu harus memutuskan, secara hitam atau putih, tiap kali kami bertemu dengan pilihan.

Aku coba jelaskan bahwa jeram adalah bagian paling berantakan dari aliran sungai. Bagian yang penuh bebatuan, pemecah ketenangan dan kelembutan sang tirta. Namun merupakan tempat belajar yang sangat besar dari kearifan sungai.

Kami arungi jeram – jeram itu di atas perahu berbahan karet, sebuah karya oleh teknologi dan seni manusia, yang terapungkan oleh udara yang mengisinya. Dengan menggenggam dayung, bersama kami gerakkan perahu atas perintah Skipper (kapten perahu) yang mengarahkan tim.

Dalam kesempatan yang hampir di sepanjang waktu pengarungan, adalah suatu kewajiban mutlak bagi skipper membuat keputusan mengenai arah dan bagian jeram mana yang harus kami lalui. Dalam hal ini, rasa kepercayaan (trust)-lah yang kami bangun. Awak perahu percaya pada keputusan skipper dan mematuhi arahannya untuk mencapai arah yang dituju, padahal dalam resiko yang tinggi. Tanpa kata – kata, awak perahu mempercayakan hidupnya kepada skipper, bahwa melalui keputusan skipper kematian yang telah digariskan Tuhan dapat segera tiba. Sebaliknya, skipper harus mengerti benar kemampuan timnya dan percaya penuh pada timnya, serta sadar betul tanggungjawabnya sebagai pemimpin dalam menjaga keselamatan awaknya. Karena itu, ego lah yang terlebih dahulu kami hancurkan.

Di sungai, kami temukan idealisme kami. Kami buktikan kebenaran suatu doktrin, atau kami patahkan melalui kesimpulan yang kami temukan. Kami kenali Indonesia melalui rakyatnya. Kami baca makna dari tiap perjalanan langsung dari alam. Kami pahami arti sebuah keputusan, bahwa hidup mestilah hitam atau putih. Disini bukanlah alam yang kami taklukkan, tapi diri kami sendiri. Kami pelajari tentang penaklukan ego kami, sehingga tak lagi ada di antara kami yang sombong dengan berkata bahwa kami sedang menaklukkan alam. Di sini kami, sesungguhnya sedang berguru kepada alam. Karena itulah kami mengarungi jeram.

Tulisan merupakan karya orisinil penulis yang pernah terbit di blog pribadi (www.danikeliat.com) tanggal 18 April 2011.

Tinggalkan Balasan