Thoriq Rizki Maulidan yang hilang di Bukit Piramid

Basarnas Tutup Operasi SAR Thoriq di Bukit Piramid

Operasi SAR Thoriq Rizki Maulidan (15 tahun), pemuda lulusan SMP di Bondowoso yang hilang di Bukit Piramid Pegunungan Argopuro sejak tanggal 23 Juni 2019 lalu, telah resmi ditutup oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) atau yang kini dikenal juga dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan pada Minggu malam kemarin (30 Juni 2019). Basarnas terpaksa menghentikan pencarian Thoriq sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) atau peraturan SAR yang memiliki batas maksimal 7 hari.

Hal ini dijelaskan oleh Jefriyanzah, Komandan Tim Basarnas Pos SAR Jember, sebagaimana Penjelajah lansir dari KabarJatim pada Senin (1 Juli 2019).

Berita SAR tentang Ditutupnya Operasi SAR Thoriq, sumber dari Simasda Basarnas
Berita SAR tentang Ditutupnya Operasi SAR Thoriq, sumber dari Simasda Basarnas

“Menurut SOP atau UU dari SAR batas (operasi pencarian dan pertolongan) adalah 7 hari. Jika sudah 7 hari melakukan searching area secara optimal, dan pola pencarian sudah kita optimalkan, (lalu) kita juga harus melihat dan mengingat kondisi anggota serta logistik kita, jika memang hasil evaluasi (pencarian hari terakhir) tidak ada tanda-tanda (ditemukannya survivor), maka dengan berat hati kita harus menghentikan proses pencarian ananda Thoriq,” ungkap Jefri.

Status Ditutupnya Operasi SAR Thoriq di Bukit Piramid, sumber dari Simasda Basarnas
Status Ditutupnya Operasi SAR Thoriq di Bukit Piramid, sumber dari Simasda Basarnas
 
Baca Sebelumnya: Operasi SAR Thoriq yang Hilang di Bukit Piramid Argopuro
 
Meski Operasi SAR Resmi Dihentikan, Pencarian Survivor Oleh Keluarga, Masyarakat Sekitar, dan Relawan Umum Masih Dilanjutkan

Meski Basarnas telah menghentikan operasi SAR resmi, Jefri juga menjelaskan bahwa pihak keluarga survivor, masyarakat, dan relawan umum akan tetap terus berusaha mencari.

“Suatu saat nanti mungkin ada pengunjung Bukit Piramid menemukan survivor atau benda-benda yang dicurigai milik survivor, maka operasi SAR bisa dibuka kembali,” pungkasnya.

Selain itu, pihak Basarnas juga masih menempatkan sejumlah personel di posko. Menurut Jefri, dengan ditutupnya operasi SAR Thoriq yang resmi, Basarnas hanya tidak melakukan penyisiran saja tetapi masih menyiagakan beberapa personel di posko.

“Kita tidak tarik semua (personel), karena rekan-rekan (relawan tim SAR Gabungan) yang ada di posko masih mengharap ada kabar bahagia. Setidaknya kita siaga satu hari di sini, mungkin ada tanda-tanda kabar menggembirakan,” demikian penjelasan Jefri.

 

Sampai Hari ini, Belum Ada Tanda-Tanda Keberadaan Thoriq

Menurut keterangan Jefri, sampai hari ini tim belum menemukan tanda-tanda, baik dari keberadaan survivor (Thoriq) sendiri atau jalur yang dilalui oleh survivor.

Sebelumnya, pada pencarian hari ketiga, telah dicoba pula pencarian menggunakan drone. Kemudian pada hari keempat, tim sempat merasa senang dengan terlihatnya dua objek yang diduga sebagai benda milik survivor yaitu di sekitar (jalur) pelana kedua.

Pada hari pencarian kelima, tim baru bisa mengakses objek tersebut dan melakukan penyisiran. Namun ternyata objek tersebut hanya lah sampah. Hal ini sempat menurunkan mental para relawan. Namun demikian pola pencarian pada hari keenam dievaluasi kembali , yaitu dengan membagi titik pencarian yang awalnya 6 sektor, dibagi kembali menjadi 2 sektor untuk efektivitas pencarian.

“Jadi kita simpulkan dari kesaksian (teman survivor) tersebut, kita fokuskan pencarian dari sebelah kiri puncak. Jadi sektor (pencarian) diperkecil menjadi satu sektor. Semua SRU kita fokuskan ke titik tersebut (yang berlokasi) di atas air terjun. Karena titik di bawah air terjun di sektor tersebut sudah (disisir, dan hasilnya) nihil,” jelas Jefri sebagaimana dilansir dari KabarRakyat.id.

Dalam operasi SAR Thoriq ini, kendala utama yang dihadapi tim SAR Gabungan adalah kondisi medan yang curam dan terjal. Selain itu, minimnya info yang diperoleh tim dari awal pencarian. Menurut penuturan ketiga teman survivor, titik hilangnya Thoriq di sekitar bagian atas Punggungan Naga.

“(Kendala yaitu) minimnya info dan luas area yang kita sisir, (yaitu) sekitar 6 karvak atau setara 6 kilometer persegi. Selain itu, kendala kita yang terbesar juga adalah curamnya dan terjalnya jalur pendakian. Di situ juga ada jurang dengan kedalaman sampai 450 meter dengan kemiringan hampir 80 derajat,” ujarnya.

Selain itu, kondisi tim yang telah sangat lelah juga faktor penentu yang harus dipertimbangkan.

“Hal yang paling utama, adalah tenaga (tim) yang kita butuhkan sudah terkuras sekali. Memang banyak  relawan yang ingin membantu, tapi kita harus selektif akan relawan tersebut. Karena kita tidak mungkin memberangkatkan suatu tim yang tidak memiliki kemampuan SAR di situ, dan juga tidak memiliki  alat-alat pendakian. Jika kita memaksakan diri, hal itu bisa menjadi boomerang bagi kita sendiri. Kita tidak mau ada korban lagi di situ,”ungkap Jefri.

Tinggalkan Balasan